Kontranews.id– Aktivitas penebangan hutan mangrove di Dusun Labbotallua, Desa Minasa Baji, Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, kian meresahkan warga.

Kerusakan ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai pelindung alami pesisir kini semakin parah dan mulai mengancam keselamatan permukiman penduduk.

Pantauan awak media pada Sabtu (31/1/2026) menunjukkan sebuah kapal jolloro tengah memuat arang hasil pembakaran kayu mangrove (bakau).

Arang tersebut diduga akan dikirim untuk diperjualbelikan ke kawasan Rajawali, Kota Makassar.

BACA JUGA :  Siapa Diuntungkan? Lahan Negara 200 Hektare Diduga Jadi Tulang Punggung Pasokan Ubi Kayu Perusahaan

Menyusutnya hutan mangrove di wilayah tersebut membuat ombak laut kini lebih mudah meresap hingga ke area pemukiman warga.

Abrasi pun kian tak terbendung, memicu kekhawatiran warga akan ancaman tenggelamnya kampung mereka.

Seorang tokoh masyarakat setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kekesalannya atas praktik pembabatan mangrove yang terus berlangsung tanpa rasa peduli terhadap dampaknya.

BACA JUGA :  Bupati Takalar Murka, Penangkapan Ikan Pakai Bom Itu Merusak!

“Tolong pak, diangkat beritanya ini. Makin hari para pelaku makin tidak peduli dengan kampung kami. Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Kami juga berencana melaporkan mereka ke Polres Takalar,” ujarnya dengan nada kesal.

Menurut sumber tersebut, terdapat tiga warga dusun yang diduga terlibat dalam aktivitas pembabatan hutan mangrove, masing-masing berinisial JR, NI, dan MA.

BACA JUGA :  Sudah Pernah Dipanggil, Kini Kembali Membom, Ada Apa dengan Polres Takalar?

Ketiganya disebut bekerja sama dalam proses penebangan hingga distribusi arang.

“Salah satunya, JR, berperan sebagai pembeli arang yang kemudian menjualnya ke Rajawali, Makassar,” tambahnya.

Warga pun berharap aparat penegak hukum segera turun tangan untuk menghentikan praktik perusakan lingkungan tersebut.

“Kami sangat berharap polisi segera menindak dan menangkap para pelaku agar kerusakan hutan mangrove ini tidak semakin parah,” pungkasnya.

Editor : Darwis