Kontranews.id– Suasana tenang kawasan wisata alam Bantimurung, Kabupaten Maros, mendadak mencekam setelah seorang janda berinisial HS (41) ditemukan tewas bersimbah darah.

Wanita itu diduga dibunuh kekasihnya sendiri, RS (35), seorang duda yang dikenal dekat dengannya.

Pertemuan yang semula dimaksudkan sebagai kencan romantis berubah menjadi tragedi berdarah akibat cemburu buta dan emosi yang meledak.

Kasat Reskrim Polres Maros, Iptu Ridwan, menjelaskan bahwa pertengkaran hebat pecah di lokasi kejadian.

BACA JUGA :  Mahkamah Agung RI diuji "Tangan Tuhan" Rakyat dan Kontrol sosial kawal proses kasasi di Maros, no. perkara kasasi 3297/K/PDT/2026

“Antara korban dan pelaku terjadi cekcok yang dipicu kesalahpahaman dan rasa cemburu,” ujarnya, Jumat (31/10/2025).

Menurut Ridwan, RS menuduh HS memiliki pria lain lantaran sering keluar malam. Namun, tudingan itu justru dibalas dengan kemarahan.

HS balik menuduh RS mendua setelah menemukan pesan mencurigakan di ponsel sang kekasih.

Cekcok berubah brutal ketika HS membuang ponsel tersebut dan mengambil sebilah parang, lalu menyerang RS hingga mengenai tangan dan wajahnya.

BACA JUGA :  Aksi di Lapas Bollangi Memanas, Rahang Mahasiswa Disebut Rusak Setelah Diamankan

RS yang terluka sempat menahan sakit dan berjongkok, namun HS kembali menebas ke arah lehernya.

Dalam kondisi panik, RS merebut parang dari tangan kekasihnya dan menebaskan senjata itu berkali-kali hingga HS tewas di tempat.

“Pelaku mengaku khilaf setelah diserang lebih dulu oleh korban,” tambah Ridwan.

Jenazah HS ditemukan warga di area Sanctuary Kupu-Kupu TWA Bantimurung, Kamis pagi (30/10/2025). Tak butuh waktu lama, polisi berhasil menangkap RS hanya tiga jam setelah penemuan mayat.

BACA JUGA :  Lansia 81 Tahun Ditemukan Membusuk, Keluarga Klaim Dipingpong Saat Hendak Melapor

Dari hasil penyelidikan, keduanya diketahui menjalin hubungan asmara sejak beberapa bulan lalu dan sama-sama berstatus janda dan duda.

Hubungan yang awalnya manis itu kini berakhir tragis — satu kehilangan nyawa, satunya kehilangan kebebasan.

Editor : Darwis