Kontranews.id – Semangat inovasi dan kepedulian lingkungan hadir di Desa Belawae, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang.

Mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Mas Intan, yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 114, sukses melaksanakan Program Kerja Individu bertema “Edukasi dan Pelatihan Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah”.

Kegiatan berlangsung pada Selasa, 22 Juli 2025, di kediaman Bapak Rusdianto, Kepala Dusun 2 (Padang Pamekke).

BACA JUGA :  Mahasiswi UNHAS Kenalkan Puding Daun Kelor sebagai Cemilan Sehat Anti Stunting di Desa Maddenra

Pelatihan diikuti ibu-ibu warga desa, khususnya anggota PKK, dengan tujuan membekali keterampilan ramah lingkungan yang dapat menjadi peluang usaha sekaligus mengurangi pencemaran akibat limbah minyak jelantah.

Materi yang diberikan meliputi pengenalan manfaat lilin aromaterapi, pemilihan dan penyaringan minyak jelantah, pencampuran aroma, hingga teknik pencetakan lilin.

Peserta tak hanya mendapat penjelasan, tetapi juga melakukan praktik langsung. Setiap peserta menerima brosur panduan pembuatan dan barcode menuju versi panduan digital agar dapat memproduksi lilin secara mandiri di rumah.

BACA JUGA :  Mahasiswi KKN-T114 Unhas Hadirkan Inovasi Pupuk Organik Cair di Desa Belawae

“Kami ingin mendorong inovasi berkelanjutan yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga,” ungkap Mas Intan, penggagas program dalam keterangan tertulisnya yang diterima media ini, Rabu (13/8/2025).

Sesi diskusi interaktif menambah semarak acara, dengan topik seperti daya tahan lilin, tren aroma di pasar, strategi pemasaran daring, dan desain kemasan produk. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya ide kreatif yang muncul.

BACA JUGA :  Mahasiswi UNHAS Kenalkan Puding Daun Kelor sebagai Cemilan Sehat Anti Stunting di Desa Maddenra

Program ini diharapkan menjadi langkah awal tumbuhnya ekonomi kreatif di Desa Belawae. Melalui pengolahan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai jual, warga tidak hanya ikut melestarikan lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi desa.

(RL/ID)