Golden Era Teater di Makassar
DKM dalam sejarahnya punya peran besar mendinamisasi pertunjukan teater di Makassar, dan Sulawesi Selatan. Ditandai dengan Festival Teater I DKM, pada tahun 1971. Lalu pada tahun 1977, kembali digelar Festival Teater II DKM.
Di tahun 1979, namanya bukan lagi Festival Teater DKM. Namun disepakati dengan nama yang diperluas menjadi Festival Teater III se-Sulawesi Selatan.
Selanjutnya Festival Teater IV diadakan tahun 1982. Pada tahun 1987, diadakan Festival Teater V DKM.
Menariknya, pada Festival Teater se-Sulawesi Selatan, tahun 1998, penyelenggaraannya dilakukan secara kolabiratif.
Ada empat lembaga yang terlibat, yakni Badan Koordinasi Keseniaan Nasional Indonesia (BKKNI), Dewan Keseniaan Sulawesi Selatan (DKSS), Dewan Kesenian Makassar (DKM), dan Taman Budaya Sulawesi Selatan.
DKM pernah jadi tuan rumah Pertemuan Sastrawan Nusantara dan Musyawarah Dewan Kesenian yang dihadiri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ketika itu, Gus Dur masih merupakan Ketua DKJ.
Ulama kharismatik dan politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini nanti terpilih sebagai Presiden RI ke-4 (periode 1999-2001).
DKM melahirkan dan mengembangkan Teater Makassar yang pada masanya tampil di berbagai panggung teater, termasuk di tingkat nasional.
DKM menjadi wadah bagi para aktor dan seniman pertunjukan untuk berlatih, bereksperimen, mementaskan, berdiskusi, dan menyelenggarakan berbagai festival.
Tampak bahwa ekosistem teater hidup pada era keemasannya. Semangat kompetisi berkarya berjalan berbarengan dengan kolaborasi antar-seniman.
Semuanya terpelihara baik. Paling tidak, itu yang tergambarkan dari ulasan panjang Fahmi Syariff dalam buku Perkembangan Kesenian di Sulawesi Selatan (Sebuah Catatan Seminar) yang diterbitkan Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (1999).
Dari yang saya baca, tampak bahwa di masanya, DKM dan teater bagai dua sisi dari sekeping mata uang.
Selain Teater Makassar, dalam buku “Makassar Doeloe, Makassar Kini, Makassar Nanti”, yang disunting Yudhistira Sukatanya dan Goenawan Monoharto (Yayasan Losari, 2000), diuraikan ada banyak kelompok teater pernah bertumbuh di Kota Anging Mammiri ini.
Antara lain, Teater Angkasa, Teater Latamaosandi, Teater Poseidon, Studi Teater Tambora, Teater Alam, Teater Pangeran, Teater Trotoar, Teater Rumbia, Teater Faksas Unhas, Teater Laku, Teater Stuutgar, Teater Ujung Pandang, Teater Rumpun Artis, Teater Bawakaraeng, Teater Sulawesi, Teater Lolo Gading, dan Teater Hasanuddin–masih lanjutan Teater Ember Bocor, yang sudah ada sejak revolusi fisik.
Masih ada lagi daftar nama-nama kelompok teater, mulai dari Sanggar Merah Putih, Sanggar Adinda, Teater Pilar, Kosaster Unhas, Teater Mekar Buana, Teater Tiga, Teater Semut, Bengkel Gerak Makassar, Teater Papi, hingga Teater Sembilan. Bisa jadi, masih banyak nama lain yang luput saya sebutkan.
Nama-nama kelompok teater ini, ada yang masih hidup, ada yang sayup-sayup terdengar, selebihnya tinggal sejarah. Saya tak banyak tahu kelompok teater, hanya beberapa saja, seperti Sinerji Teater, Sanggar Merah Putih, Kelompok Sandiwara Petta Puang, Kala Teater, Teater Studio, dan Teater Kita.
Saya pernah diperlihatkan arsip-arsip undangan dan brosur pertunjukan teater di Makassar era 1970 hingga 1990an koleksi Goenawan Monoharto di kantornya, Penerbit de La Macca. Dari situ saya dapat menyimpulkan, betapa aktifnya perteateran di Makassar, dalam rentang waktu lebih kurang dua dekade.





